assalamualaikum wr wb selamat datang diblog saya semoga bermanfaat

Selasa, 30 Oktober 2012

Sejarah Melayu Riau




   Suku bangsa melayu riau adalah penduduk provinsi riau yang secara historis sebenarnya adalah hasil pembauran lama antara bans melayu tua (proto melayu) yang mula mula mendiami daerah ini dengan suku bangsa melayu muda (deutro melayu) yang datang kemudian ,mendiami daerah pantai dan tepian sungai besar dan kecil .Didaerah ini suku melayu riau merupakan pendukung kebudayaan melayu ,yang sebelumnya juga dipengaruhi agama budha ,hindudn yng paling akhir agama islam dari kerajaan – kerajaan yang terdapa didaerah ini antara lain kerajaan riau lingga,kerajaan siak sri indrapura,kerjaan indrgiri,kerjaan pelalawan dan lainnya.<!--more-->
   Mata pencaharian utama penduduk adala berburu ,nelayan,dan bertani dengan menggunakan peralatan tradisional seperti kail,pancing jalapukat,bubu,togok,klong.Petani menggunakan cangkul,parang ,kapak,tajakHasil dari tangkapan nelayan dijual dan untuk dimakan sebagai ambahan nasi atau sagu.Petani menghasilkan karet,kalapa dan buah-buahan.
   Bangunan asli masyarakat melayu riau umumnya terbuat dari kayu dan nibung  yang disesuaikan dengan keadaan alamnya karena bahan mudah diperoleh ,engan beratapkan daun rumbia, nipah,dan daun pandan.Bentuk rumahnya bertiang guna untuk menghindari pasang surut air dan menghindarkan dari gangguan bnatang bas dengan atapnya berbentuk limas ,lipat kajang atau bumbung panjang dan diatasnya biasana ditekan dengan belahan nibung  atau anyaman jaring ,untuk menjaga keselamatan dari tiupan angin.
   Sistem  kekerabatan orag melayu adalah garis ayah.masyarakat yang disebut suku melayu riau adalah orang yang hdup didaerah Riau,beragama islam,berbahasa melayu dan beradat istiadat melayu.        
   Pencaharian pokok penduduk adalah bertani dan nelayan. Pertanian utama adalah padi ladang, sawah pasang surut, perkebunan karet, kelpa, sagu, buah-buahan dan palawijaya. Sebagai nelayan, mereka menangkap ikan, baik ikan air asin, maupun ikan air tawar disungai-sungai besar. Sebagaian besar masih menggunakan alat-alat dan sistem radisional, maka hasilnya sekedar dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Karena kebutuhan hidup makin meningkat, sejalan dengan tuntutan zaman, maka pendapatan demikian tidak mengimbanginya. Oleh sebab itu terjadilah kemiskinan, yang mengakibatkan terjadinya pergesaran nilai-nilai dalam kebudayaan masyarakat Melayu Riau.
  Dahulunya untuk mengerjakan ladang, kebun, mendirikan rumah dan sebagainya masyarakat mengutamakan pekerjaan gotong royong, yang disebut dengan bersolang, berpiari, batobo, serta betayan. Tetapi kerena kehidupan ekonomi mereka semakin sulit, maka mereka cenderung untuk mencari keuntungan dari pekerjaannya itu, sehingga terjadilah upah mengupah, walaupun sebagian daerah upah mengupah itu belumlah secara komersial penuh, tetapi masi bersifat kekeluargaan yang disebut dengan” upah serayah”. Tetapi gejala kearah komersial itu sudah mulai tumbuh dan berkembang.
Pengaruh kehidupan ekonomi semakin hari  makin sulit itu,  menyebabkan kemampuan masyarakat untuk menyediakan pakaian adat tradisional dengan hiasan serta kelengkapannya semakin terbatas pula. Kalau dahulunya masyarakat biasapun dapat membuatnya, sekarang hanyalah sebagian kecil saja yang mampu mengadakannya ; dipakai waktu upacara adat perkawinan dan sebagainya. Keadaan ini mengakibatkan banyak pakaian adat tradisional ini tidak dibuat dan kemungkinan besar pada akhirnya akan hilang dan tidak dikenal lagi dalam masyarakat. Oleh sebab itulah kalau memakai pakaian adat tradisional ini disebut untuk melakukan kegiatan kesenian dalam hal menari,main sandiwara, atau main,tonil,bangsawan dan sebagainya.
   Walaupun didaerah Riau berbagai usaha pemerintah untuk meningkatkan taraf  kehidupan penduduk,namun hasilnya belum memadai,karena penduduk masih terikat kepada pol kehidupan tradisionalnya.Peremajaan kebun telah dilakukan di beberapa daerah, tetapi hasilnya belum memadai. Ladang berpindah masih dilakukan penduduk terutama didaerah pedalaman. Nelayan masih menggunakan peralatan tradisional, hal ini menyebabkan kalah saing dengan pengusaha yang menggunakan peralatan modern.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar